Rusinah Baskha. Powered by Blogger.

Thursday, February 26, 2026

“Di Antara Akrab dan Jarak”

Suasana kampus pagi itu riuh oleh harap dan cemas. Langit masih pucat ketika para calon mahasiswa berkerumun di depan papan pengumuman. Namaku—Alya—kutemukan di sana, tertera rapi di antara deretan huruf yang membuat napasku tercekat. Aku lulus.

Jantungku berdebar dua kali lebih cepat saat mengecek daftar peserta ospek. Namaku ada di kelompok tiga. Di sanalah pertama kali aku bertemu dengannya—sebut saja Raka.

Ia berdiri dengan ransel hitam dan kertas daftar ulang di tangan. Wajahnya tenang, matanya tajam seperti selalu memikirkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar instruksi panitia.

“Kelompok tiga juga?” tanyanya sambil tersenyum ramah.

“Iya,” jawabku, mengangguk. “Sepertinya kita akan sering bertemu.”

“Semoga tidak bosan,” katanya ringan.

Aku tertawa kecil. Entah kenapa, percakapan sederhana itu terasa hangat.

Hari-hari ospek berlalu dalam lelah dan tawa. Raka sering melontarkan pertanyaan kritis saat sesi materi. Kadang panitia dibuat kewalahan, kadang kami dibuat kagum. Ia pintar—bukan sekadar pintar menghafal, tapi pintar berpikir.

Ternyata kami satu jurusan. Sejak itulah kebersamaan kami tak lagi kebetulan.

Perkuliahan dimulai. Bangku-bangku kelas menjadi saksi diskusi panjang kami. Tentang teori, tentang mimpi, tentang rindu pada rumah karena kami sama-sama anak rantauan.

“Alya, menurutmu teori ini relevan nggak dengan kondisi sekarang?” tanya Raka suatu sore di perpustakaan.

“Relevan, tapi perlu dimodifikasi. Dunia nggak sesederhana di buku,” jawabku.

Ia tersenyum. “Aku suka cara berpikirmu.”

“Kenapa?”

“Kamu nggak hanya menerima. Kamu mempertanyakan.”

Dan sejak itu, kami seperti dua sisi yang saling melengkapi. Banyak teman berkata, “Kalian itu soulmate, ya? Nyambung banget.”

Kami hanya tertawa. Namun godaan itu tak pernah benar-benar berhenti. Teman-teman sering menyikut, bahkan dosen kadang berseloroh di kelas.

“Kalau diskusi kalian berdua, kelas jadi terasa seperti sidang skripsi,” kata salah satu dosen, disambut tawa seisi ruangan.

Kebersamaan itu bertahan hingga semester enam.

Semester enam, aku menjalani PPL. Kami tak lagi satu kelompok. Jarak mulai menyelip pelan, meski komunikasi masih ada.

Hingga suatu hari, di tengah kelas yang riuh, seorang teman berseru lantang,
“Eh, Alya sama Fajar jadian, ya?”

Semua mata menoleh padaku.

“Benarkah?”
“Sejak kapan?”
“Wah, pantesan sering bareng!”

Aku terdiam. Budi—atau Budi—hanya temanku. Ia juga sahabat dekat Raka.

“Tidak,” jawabku tegas. “Kami hanya teman.”

Namun isu itu seperti angin kencang yang sulit dihentikan.

Sejak hari itu, ada yang berubah. Raka tak lagi duduk di sampingku. Pesan-pesan diskusi berhenti. Tatapannya menghindar.

Suatu sore aku memberanikan diri bertanya,
“Raka, ada apa? Kamu berubah.”

Ia terdiam, lalu berkata singkat, “Nggak ada apa-apa.”

Namun dari seorang teman, kudengar kalimat yang membuat dadaku sesak.

“Raka bilang dia risih. Katanya orang-orang salah paham terus kalau dia jalan sama kamu. Dia muak.”

Muak.

Kata itu menamparku tanpa suara.

Sejak itu kami benar-benar menjauh. Hingga wisuda datang dan kami berpisah tanpa benar-benar bicara. Lost contact.

Dua tahun berlalu.

Suatu malam, ponselku berdering. Nomor tak dikenal.

“Halo?”

“Hai… ini Alya?” Suara itu tak asing.

“Raka?”

Ia tertawa kecil. “Iya. Kaget, ya?”

“Dari mana dapat nomorku?”

“Ada saja jalannya.”

Percakapan malam itu mengalir seperti dulu. Tentang pekerjaan, tentang hidup yang tak selalu mudah. Seakan dua tahun tak pernah ada.

Sejak saat itu kami kembali akrab. Saling berkomentar di media sosial, saling menanggapi cerita. Orang-orang kembali berspekulasi.

“Balikan ya?”
“Ciee yang nyambung lagi…”

Aku mulai sadar, mungkin perasaanku tak sesederhana dulu. Suatu malam, dalam percakapan panjang, aku berkata jujur.

“Raka, kamu tahu nggak?”

“Apa?”

“Aku selalu mengagumimu. Kamu pintar… dan kamu menginspirasiku.”

Di seberang sana hening.

Keesokan harinya, balasannya berbeda. Singkat. Dingin.

Beberapa hari kemudian, ia menghilang. Akunku tak lagi bisa melihat profilnya. Ia memblokirku.

Aku mendengar dari temannya,
“Raka marah. Katanya kamu mengganggu. Dia nggak nyaman. Makanya dia blok.”

Mengganggu.

Kata itu kembali menghantam, seperti dulu.

Aku akhirnya mengirim pesan lewat perantara,
“Kalau aku salah, maaf. Kita bisa berteman lagi, kan?”

Jawabannya sampai padaku dalam potongan kalimat:
“Dia bilang… dia nggak pantas buat kamu.”

Aku sering bertanya dalam diam:
Apa salahku? Mengapa setiap aku mendekat dengan tulus, ia justru menjauh?

Mungkin Raka menyimpan sesuatu yang tak pernah selesai ia pahami. Mungkin ia takut pada perasaan yang tak ingin ia akui. Atau mungkin, baginya, menjaga jarak adalah cara melindungi diri.

Kini, yang tersisa hanya kenangan tentang dua anak rantau yang pernah merasa paling mengerti satu sama lain.

Tentang diskusi panjang di perpustakaan.
Tentang tawa di bangku kelas.
Tentang kata-kata yang tak pernah benar-benar diucapkan.

Dan tentang jarak—
yang selalu datang setiap kali hati mulai terlalu dekat.

0 komentar:

Post a Comment

 

Find me on

Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Jumlah Viewer Sampai Saat ini: