Rusinah Baskha. Powered by Blogger.

Saturday, March 07, 2026

Ketika Waktu Mempertemukan Kembali


Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat untuk memendam sebuah cerita yang tak pernah benar-benar selesai.

Kimmy dan Geo pernah menjadi sahabat yang sangat dekat. Di masa kuliah, mereka hampir selalu bersama. Diskusi tugas, bercanda di kantin, hingga saling membantu saat ujian. Teman-teman bahkan sering menganggap mereka seperti dua orang yang tak terpisahkan.

Namun semuanya berubah ketika Kimmy, pada suatu sore setelah kuliah terakhir semester itu, berkata dengan jujur.

“Aku harus bilang sesuatu, Geo,” katanya pelan.

Geo masih menatap catatan di tangannya.

“Apa?”

Kimmy menarik napas panjang.

“Aku… suka kamu. Bukan sekadar sahabat.”

Geo terdiam. Wajahnya berubah. Bukan marah, tapi seperti seseorang yang tiba-tiba kehilangan arah.

“Kenapa kamu bilang itu?” katanya akhirnya.

“Karena aku tidak ingin membohongi diriku sendiri.”

Geo menutup bukunya keras.

“Kita sahabat, Kim. Sahabat. Kamu tahu itu, kan?”

“Aku tahu… tapi perasaan tidak selalu bisa diatur.”

Geo berdiri.

“Kamu membuat semuanya jadi rumit.”

Sejak hari itu, mereka menjauh. Tidak ada pertengkaran besar, tapi ada jarak yang tak pernah lagi bisa dijembatani.

Beberapa bulan kemudian mereka lulus. Hidup membawa mereka ke arah masing-masing.

Dan dua puluh tahun berlalu.

Grup Alumni

Dua tahun terakhir, mereka berada dalam satu grup WhatsApp alumni.

Nama Kimmy dan Geo sering muncul di layar ponsel yang sama. Namun tak pernah saling menyapa.

Setiap kali Geo mengirim pesan, Kimmy hanya membaca.

Setiap kali Kimmy memberi komentar, Geo juga hanya melihat tanpa menjawab.

Seolah ada kesepakatan diam untuk tetap menjaga jarak.

Suatu malam, seorang teman lama, Rani, menulis di grup.

“Teman-teman! Tahun ini kita adakan REUNI 20 TAHUN LULUS. Setuju?”

Pesan langsung ramai.

Bima:

“Setuju! Kangen semua!”

Laras:

“Lokasinya di kampus saja!”

Beberapa saat kemudian Rani menulis lagi.

“Yang hadir wajib ya. Termasuk Geo dan Kimmy. Jangan cuma jadi pembaca setia 😄”

Kimmy membaca pesan itu sambil tersenyum tipis.

Di tempat lain, Geo juga membaca pesan yang sama… lalu meletakkan ponselnya tanpa komentar.

Hari Reuni

Aula kampus terasa penuh tawa.

Spanduk besar bertuliskan:

“Reuni 20 Tahun Alumni.”

Kimmy datang bersama Rani.

“Deg-degan?” tanya Rani sambil tersenyum nakal.

“Kenapa harus deg-degan?”

“Karena Geo juga datang.”

Kimmy berhenti berjalan.

“Apa?”

Rani tertawa kecil.

“Dia baru konfirmasi tadi pagi.”

Di sudut ruangan, Bima sedang bercanda dengan beberapa teman.

Lalu pintu aula terbuka.

Seorang pria masuk. Rambutnya sudah sedikit beruban di pelipis, tapi wajahnya masih sama.

Geo.

Beberapa orang langsung menyapanya.

“Geo! Lama sekali!”

Namun saat matanya menyapu ruangan… ia melihat seseorang.

Kimmy.

Mereka berdiri cukup jauh. Tapi jarak itu terasa seperti dua puluh tahun.

Tidak ada yang bicara.

Pertemuan

Rani menepuk bahu Kimmy.

“Kalau kalian terus berdiri seperti patung, reuni ini tidak akan selesai.”

Kimmy tertawa kecil gugup.

Di sisi lain, Bima menepuk bahu Geo.

“Pergilah. Dua puluh tahun cukup lama untuk diam.”

Geo menarik napas panjang.

Akhirnya mereka berjalan mendekat.

Berhenti sekitar satu meter.

Kimmy yang pertama bicara.

“Halo, Geo.”

Geo tersenyum sedikit.

“Halo, Kim.”

Sunyi beberapa detik.

Geo lalu berkata pelan.

“Kamu… kelihatan sama seperti dulu.”

Kimmy tertawa.

“Itu cara halus bilang aku tidak berubah tua?”

Geo ikut tertawa kecil. Ketegangan perlahan mencair.

Beberapa teman di belakang pura-pura sibuk tapi sebenarnya memperhatikan.

Geo menunduk sebentar.

“Aku harus bilang sesuatu.”

Kimmy menatapnya.

“Aku dulu marah… bukan karena kamu jujur.”

“Lalu?”

Geo menarik napas.

“Karena aku tidak siap menghadapi perasaan itu. Aku takut kehilangan sahabatku… jadi aku malah benar-benar kehilangan.”

Kimmy terdiam.

“Dua puluh tahun cukup lama untuk menyesali sikapku.”

Kimmy tersenyum lembut.

“Aku juga punya salah.”

Geo mengangkat alis.

“Aku menghilang tanpa mencoba memperbaiki.”

Mereka saling menatap. Tidak ada lagi amarah di sana. Hanya kenangan.

Dari kejauhan, Rani berbisik ke Bima.

“Menurutmu mereka akan mulai dari awal?”

Bima tersenyum.

“Mungkin bukan dari awal.”

“Lalu?”

“Dari bagian yang dulu sempat terhenti.”

Malam Itu

Reuni berakhir dengan banyak foto.

Sebelum pulang, Geo berdiri di dekat parkiran ketika Kimmy mendekat.

“Kim.”

“Ya?”

“Bolehkah kita… mulai lagi?”

“Mulai apa?”

“Berteman.”

Kimmy tersenyum.

“Aku pikir kita tidak pernah benar-benar berhenti.”

Geo mengeluarkan ponselnya.

“Kalau begitu… tidak perlu lagi lewat grup alumni untuk menyapa.”

Kimmy tertawa.

“Setuju.”

Dan untuk pertama kalinya setelah dua puluh tahun, mereka berjalan keluar dari gerbang kampus… berdampingan lagi.

Tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu.

Tapi kali ini, mereka tidak membiarkan diam menjadi jarak.

0 komentar:

Post a Comment

 

Find me on

Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Jumlah Viewer Sampai Saat ini: