Jumat, 28 Agustus 2026
Kemarin, engkau masih terlihat sehat, Bah.
Aku memberimu sedikit es. Sangat sedikit, karena aku menjaga kondisimu.
"Sedikitnya," katamu.
Tak pernah terlintas di pikiranku bahwa percakapan sederhana sore itu akan menjadi salah satu kenangan yang paling ingin kuulang.
Kami menjalani hari seperti biasa.
Tanpa tahu bahwa waktu sedang diam-diam menghitung mundur.
Sabtu, 29 Agustus 2026 — pukul 15.20 WITA
Tepat ketika azan Ashar berkumandang, kami membawamu ke rumah sakit.
Sesak napas dan batuk membuat tubuhmu begitu lemah. Engkau tak lagi berdaya, hingga tubuhmu harus kami angkat ke mobil tetangga.
Mobil melaju cepat menuju rumah sakit.
Aku hanya bisa berharap, semoga sesakmu segera mereda. Semoga setelah mendapatkan pertolongan, engkau kembali pulih dan kami bisa membawamu pulang.
Sesampainya di rumah sakit, engkau langsung dibawa ke ruang UGD.
Selama kurang lebih enam jam engkau terbaring di sana.
Tenaga medis menangani dan memeriksamu. Infus dipasang. Oksigen diberikan. Rontgen dilakukan.
Aku terus melihatmu.
Berharap semua ini hanya sebuah sakit yang sebentar.
Sekitar pukul 21.00 WITA, engkau dipindahkan ke ruang rawat inap.
Saat itu, engkau masih mampu berpindah dari ranjang sendiri. Engkau kemudian berbaring dan tertidur.
Aku kembali merasa sedikit tenang.
Kupikir, setelah tidur, tubuhmu akan lebih segar.
Kupikir, besok engkau akan bangun dan kembali berbincang bersama kami.
Ternyata, Allah menuliskan jalan yang berbeda.
Ahad, 30 Agustus 2026
Pagi hingga siang, engkau terlihat seperti mulai pulih.
Sekitar pukul 12.00, engkau masih makan bubur dan satu buah pisang Ambon.
Engkau juga masih minum air.
Setelah itu, engkau kembali tidur.
Awalnya kami mengira engkau hanya sedang beristirahat.
Namun waktu terus berjalan.
Engkau tidak juga bangun.
Sekitar pukul 21.00, aku mulai merasa khawatir.
Aku bertanya kepada tim medis tentang kondisimu yang tertidur lelap sejak siang dan tidak juga terbangun.
Kami diminta mencoba membangunkanmu.
Kami membangunkanmu.
Tim medis pun memeriksa kondisimu.
Namun engkau tetap tidak membuka mata.
Tidak bangun.
Tidak menyahut.
Aku belum mengerti bahwa malam itu adalah malam terakhir aku melihatmu dalam keadaan seperti itu.
Senin, 31 Agustus 2026
Sekitar pukul 01.00 dini hari, napasmu terdengar agak kencang.
Oksigen dipasang maksimal.
Perlahan, engkau terlihat lebih tenang.
Sekitar pukul 05.30 WITA, kondisi ayah mulai menurun.
Namun tekanan darah masih normal.
Pukul 07.00, monitor pasien dipasang.
Aku berdiri di dekatmu.
Menatap layar monitor.
Angka awal detak jantung menunjukkan 100.
Angka oksigen 90.
Aku mendekat kepadamu.
Kubisikkan dzikir di telingamu.
Kubisikkan kalimat syahadat.
Aku terus menatap layar monitor sambil berharap angka-angka itu kembali naik.
Namun angka itu justru terus menurun.
Aku masih menggenggam harapan.
Sambil terus membisikkan dzikir dan syahadat di telingamu.
Hingga akhirnya...
garis itu menjadi tanda strip.
Tidak ada lagi gerakan.
Tidak ada lagi napas.
Dan pada pukul 09.40 WITA, rasanya seluruh duniaku runtuh.
Air mata mengalir deras.
Seakan aku tidak percaya bahwa engkau benar-benar telah pergi.
Pergi meninggalkan kami.
Selamanya.
Secepat itu, Bah...
Hanya sekitar 42 jam sejak kami membawamu ke rumah sakit.
42 jam yang mengubah segalanya.
Abah...
Kenapa kau sembunyikan sakitmu?
Kenapa kau tidak mengatakan sejak awal bahwa kondisimu sedang tidak baik-baik saja?
Mungkin karena engkau tidak ingin membuat kami khawatir.
Engkau memilih diam.
Memendam rasa sakitmu sendiri.
Sementara kami tetap menjalani rutinitas seperti biasa.
Dan kini, aku terus bertanya kepada diriku sendiri...
Seandainya aku lebih peka.
Seandainya aku lebih memperhatikan.
Seandainya aku tahu bahwa tubuhmu sedang menahan sakit.
Mungkin aku bisa berbuat lebih banyak.
Maafkan anakmu, Bah.
Maaf karena kurang memperhatikan kondisimu.
Maaf karena tidak memahami apa yang sedang engkau rasakan.
Dan maaf karena baru menyadari betapa berharganya setiap detik bersamamu ketika waktu itu sudah tidak bisa diulang lagi.
Engkau sering berkata kepadaku,
"Aku nyaman kalau ada kamu yang membawaku berobat.
Kini kalimat itu terus terngiang di kepalaku.
Dulu aku menganggapnya sebagai kalimat biasa.
Sekarang, kalimat itu menjadi salah satu peninggalan paling berharga yang engkau tinggalkan untukku.
Selamat jalan, Abah.
Terima kasih telah menjadi tempat pulang, tempat bertanya, dan sosok yang selama ini selalu ingin kami jaga.
Empat puluh dua jam terasa begitu singkat.
Tapi kenangan bersamamu akan tinggal jauh lebih lama.
Bahkan mungkin...
seumur hidup.
Semoga Allah mengampuni segala dosa dan khilafmu, menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan tempat peristirahatanmu, menerangi kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Al-Fatihah untuk Abah.
Semoga suatu hari nanti, Allah mempertemukan kita kembali.
Bukan lagi di rumah sakit.
Bukan lagi dalam sakit.
Tetapi di tempat yang tidak ada lagi perpisahan.
Di dalam Jannah-Nya.




0 komentar:
Post a Comment