Rusinah Baskha. Powered by Blogger.

Tuesday, March 03, 2026

Nomor Tak Dikenal di Malam yang Tenang


Malam itu, sehabis magrib, langit masih menyisakan warna jingga yang pelan-pelan memudar. Aku baru saja merapikan mukena ketika ponselku bergetar di atas meja. Nomor tak dikenal.

Aku menatapnya lama.

Satu dering.

Dua dering.

Tiga dering.

“Ah, paling salah sambung,” gumamku, membiarkannya. Tapi panggilan itu tak berhenti. Ada sesuatu dalam caranya berdering—terus-menerus, seolah tak mau menyerah.

Dengan sedikit ragu, kuangkat juga.

“Halo?”

Beberapa detik hening. Lalu suara itu terdengar. Hangat. Familiar. Membawa kenangan yang sempat kukunci rapat.

“Hi… aku Geo. Masih kah kau ingat padaku, Kimmy?”

Jantungku seperti lupa caranya berdetak.

Badebah, kataku dalam hati. Mana mungkin aku lupa.


Geo.

Teman kampus yang dulu hampir selalu ada di setiap ceritaku. Partner diskusi. Lawan debat. Teman pulang yang suka pura-pura lupa arah hanya supaya perjalanan terasa lebih lama. Kami pernah begitu dekat—hingga orang-orang mengira kami lebih dari sekadar sahabat.

Sampai satu hari, salah paham kecil berubah menjadi tembok besar. Tidak ada pertengkaran hebat. Tidak ada kata-kata kasar. Hanya diam yang terlalu panjang. Ego yang sama-sama tinggi. Dan akhirnya, jarak yang benar-benar jadi nyata.

Dua tahun setelah lulus, suaranya kembali menyapa dari seberang sana.

“Kamu apa kabar?” tanyanya hati-hati, seolah takut pertanyaannya menyinggung sesuatu yang rapuh.

“Baik,” jawabku singkat, berusaha terdengar biasa saja. “Kamu?”

“Baik juga. Aku… kerja di luar kota sekarang.”

Percakapan itu mengalir pelan. Tentang pekerjaan. Tentang kesibukan. Tentang teman-teman lama yang satu per satu sudah menikah. Kami tertawa kecil saat mengingat dosen killer yang dulu membuat kami begadang semalaman hanya untuk revisi.

Tapi di sela tawa itu, ada ruang kosong yang terasa.

“Aku minta maaf, Kim,” katanya tiba-tiba.

Aku terdiam.

“Dulu… aku harusnya nggak langsung percaya omongan orang. Harusnya aku tanya kamu dulu. Tapi aku gengsi. Dan bodohnya, aku malah menjauh.”

Angin malam menyentuh tirai jendela. Hening kembali menyelimuti, kali ini bukan karena canggung—tapi karena luka lama yang disentuh pelan-pelan.

“Aku juga salah,” kataku lirih. “Aku terlalu bangga buat jelasin. Kupikir kalau kamu benar-benar percaya sama aku, kamu nggak akan ragu.”

Di seberang sana, Geo menghela napas.

“Dua tahun ternyata lama ya, cuma buat saling menunggu siapa yang duluan menurunkan ego.”

Aku tersenyum, meski dia tak bisa melihatnya.

Malam itu, bukan sekadar panggilan telepon. Itu seperti membuka kembali halaman lama yang sempat terlipat. Tak semua kenangan harus diulang. Tapi beberapa memang perlu diselesaikan.

“Kim,” suaranya terdengar lebih lembut, “boleh nggak kita mulai lagi? Nggak harus seperti dulu. Jadi teman yang benar-benar dewasa saja. Tanpa prasangka.”

Aku menatap langit di luar jendela. Gelapnya tak lagi terasa sepi.

“Boleh,” jawabku pelan. “Tapi kali ini, jangan hilang tanpa penjelasan.”

Ia tertawa kecil.

“Janji.”

Panggilan itu berakhir hampir satu jam kemudian. Ponselku kembali diam. Tapi hatiku tidak lagi sama.

Kadang, yang kembali bukanlah perasaan lama.

Melainkan kesempatan untuk memperbaiki yang pernah retak.

Dan malam itu, nomor tak dikenal tak lagi terasa asing.

0 komentar:

Post a Comment

 

Find me on

Facebook  Twitter  Instagram  Youtube

Jumlah Viewer Sampai Saat ini: