Malam itu, sehabis magrib, langit masih menyisakan warna jingga yang pelan-pelan memudar. Aku baru saja merapikan mukena ketika ponselku bergetar di atas meja. Nomor tak dikenal.
Aku menatapnya lama.
Satu dering.
Dua dering.
Tiga dering.
“Ah, paling salah sambung,” gumamku, membiarkannya. Tapi panggilan itu tak berhenti. Ada sesuatu dalam caranya berdering—terus-menerus, seolah tak mau menyerah.
Dengan sedikit ragu, kuangkat juga.
“Halo?”
Beberapa detik hening. Lalu suara itu terdengar. Hangat. Familiar. Membawa kenangan yang sempat kukunci rapat.
“Hi… aku Geo. Masih kah kau ingat padaku, Kimmy?”
Jantungku seperti lupa caranya berdetak.
Badebah, kataku dalam hati. Mana mungkin aku lupa.
Geo.
Teman kampus yang dulu hampir selalu ada di setiap ceritaku. Partner diskusi. Lawan debat. Teman pulang yang suka pura-pura lupa arah hanya supaya perjalanan terasa lebih lama. Kami pernah begitu dekat—hingga orang-orang mengira kami lebih dari sekadar sahabat.





