Selamat Jalan, Tata
Jum'at pagi, 5 Juni 2026.
Pagi itu rumah terasa berbeda. Tidak ada suara langkah kecil yang biasanya menyambutku. Tidak ada tatapan manja yang selalu meminta perhatian. Pagi itu, Tata, kucing putih penurut yang telah menemaniku selama empat tahun, menghembuskan napas terakhirnya.
Tata bukan sekadar kucing. Ia adalah teman setia yang selalu ada dalam keseharianku. Setiap malam, ia tidur di ranjangku, tepat di samping kakiku. Kehangatannya menjadi bagian dari malam-malam yang tenang. Kadang ia bergerak mencari posisi yang nyaman, lalu tertidur pulas seakan dunia tidak memiliki masalah apa pun.
Ia juga punya kesukaan yang tidak pernah berubah: iwak bajarang. Begitu mencium aromanya, Tata akan datang dengan langkah cepat, mengeong manja meminta bagian. Makanan itu selalu berhasil membuatnya bahagia.
Meski penurut, Tata punya keberanian yang luar biasa. Ia tidak suka ada kucing asing yang naik ke rumah. Bila ada kucing lain yang berani masuk ke wilayahnya, Tata akan berubah menjadi penjaga rumah yang galak. Bulu-bulunya berdiri, matanya tajam, dan ia siap mengusir siapa saja yang dianggap mengganggu.
Ada satu hal lagi yang selalu membuat kami tersenyum. Setiap kali terdengar suara paman penjual bakso melintas di depan rumah, Tata menjadi yang paling heboh. Entah bagaimana, ia selalu mengenali suara itu dari kejauhan. Ia akan berlari ke depan rumah, mengeong riang seolah tidak ingin ketinggalan momen kedatangan sang penjual bakso.
Setengah bulan yang lalu, Tata melahirkan tiga anak yang lucu. Kami semua berharap mereka tumbuh sehat dan menemani hari-hari Tata. Namun sejak melahirkan, kesehatan Tata mulai menurun. Tubuhnya demam dan lemah. Ia lebih sering bersembunyi di bawah tempat tidur, tempat yang biasanya ia pilih saat merasa tidak nyaman.
Dua hari ia sakit. Kami khawatir. Namun kemudian ia makan dengan lahap seperti biasanya. Kami mengira Tata telah sembuh. Sayangnya, takdir berkata lain. Ketiga anaknya tidak berhasil bertahan hidup.
Sejak kehilangan anak-anaknya, Tata tidak pernah benar-benar sehat kembali. Tubuhnya semakin lemah. Malam kemarin ia bahkan tidak pulang ke rumah. Ketika pagi datang, ia kembali dengan langkah gontai. Suaranya yang biasanya lantang kini hanya terdengar pelan dan lirih. Hampir dua hari ia tidak makan.
Sebelum berangkat ke sekolah pagi tadi, aku sempat menengoknya. Tata masih terbaring lemah. Aku berharap ketika pulang nanti ia akan sedikit lebih baik.
Namun Allah memiliki rencana lain.
Tata memilih pergi pada pagi itu.
Kini sudut-sudut rumah terasa berbeda. Tidak ada lagi yang tidur di samping kakiku. Tidak ada lagi yang heboh saat suara penjual bakso terdengar dari kejauhan. Tidak ada lagi penjaga kecil yang selalu siap mengusir kucing asing dari rumah.
Terima kasih, Tata.
Terima kasih telah menjadi teman selama empat tahun. Terima kasih untuk setiap malam yang kau temani, untuk tingkah lucumu, untuk kesetiaanmu yang sederhana namun begitu berarti.
Jejak kakimu mungkin telah hilang dari lantai rumah ini, tetapi kenangan tentangmu akan tetap tinggal di hati.
Selamat beristirahat, Tata.
Kau bukan hanya seekor kucing.
Kau adalah keluarga. 🤍🐾









0 komentar:
Post a Comment